Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Bagi Bangsa dan Kemanusiaan



GHIRAHBELAJAR.COM, Resensi Buku Mengobati Luka Peradaban Karya Mega Saputra – Fenomena globalisasi menyembulkan paradoks tak berkesudahan. Kemajuan yang digadang-gadang hadir beserta kian mengglobalnya tradisi dan budaya, ternyata mengalami gempuran di tengah teknologi yang kian digdaya. Kita terlampau tak berdaya, termakan hoaks, politik identitas, pendidikan yang jumud, ketidakadilan tumbuh subur, dan kaum muda yang sibuk stalking mantan di media sosial tapi buta realitas sosial.

Isu-isu terdepan tersebut mengemuka dalam buku catatan Mega Saputra bertajuk Mengobati Luka Peradaban; Renungan tentang Isu-Isu Kebangsaan dan Kemanusiaan. Mula-mula, Ega, sapaan akrabnya, menyoroti soal ruang hidup demokrasi dalam bab “Mempertegas Demokrasi Kita”. Ia menyoroti soal agama dan politik yang berkembang belakangan ini. “Pendangkalan daya kritis warga negara juga disumbang oleh peran tokoh agama yang tidak revolusioner. Masyarakat kita hari ini ‘surplus doa dan defisit aksi’. Agama yang seharusnya hadir dalam gerakan yang profetis dan kritis, justru terjebak dalam ritual-ritual sempit di ruang ibadah,” ujarnya.

Dalam kondisi demikian, Ega menyebutkan, “Reaktivasi etika dan ruang publik adalah salah satu solusi merawat bangsa dengan akal sehat dan spirit warga negara (citizenship). Etika publik adalah refleksi kritis tentang standar atau norma yang menentukan baik-buruk dan benar salah suatu tindakan dan keputusan yang mengarahkan pada pencapaian tatanan sistem dan masyarakat yang berkeadaban.” Bagi penulis, kepentingan politik tidak boleh mendauhuli kepentingan bangsa dan kepentingan kemanusiaan.

Ia juga menyebutkan, “Logika demokrasi acap kali berbenturan dengan logika kekuasaan. Dibutuhkan masyarakat sipil dan komunitas sosial yang kuat dan cerdas untuk menjadi pengawal demokrasi. Masyarakat yang melek demokrasi dan menyadari hak kewarganegaraannya adalah amunisi untuk menghindari kembalinya otoritarianisme negara ataupun anarkisme pasar.” 

Bagi penulis, demokrasi memberikan ruang yang sama, baik bagi minoritas maupun mayoritas, untuk berkesempatan menjadi calon kepala daerah.


Ega juga membahas persoalan pendidikan pada bab iii “Menggairahkan Pendidikan yang Berkemajuan”. Dalam catatannya, Ega menyarankan agar sistem pendidikan kembali pada hakikatnya. Ia memberikan solusi dengan penerapan pendidikan holistik. Dalam satu penjelasan ia menyebutkan, “Pendidikan holistik adalah pendidikan yang diusung untuk membangun tatanan kehidupan yang utuh dan menyeluruh dengan memperhatikan potensi murid secara holistik, sehingga dihasilkan peserta didik yang peka untuk memperbaiki berbagai permasalahan lokal maupun global.” Pendidikan holistik, kata Ega, memiliki prinsip 3-R: relation (relasi), responsibility (tanggung jawab), dan reverence (menghormati).

“3R menjadi modal dalam menggembleng etika dan diri peserta didik yang hari-hari terlalu disibukkan dengan prinsip-prinsip pembelajaran yang dikenal dengan calistung (baca, tulis, dan hitung),” ujarnya. Sebab itulah, “Kualitas pendidik tidaklah cukup hanya sekedar menjadikan peserta didik pada tingkatan tentang mengetahui (to know).” Guru yang berkemajuan, kata Ega, merupakan sosok yang sangat penting yang menginterpretasi makna dari berbagai mata pelajaran yang diajarkan kepada peserta didik.

“Mendidik adalah tugas yang mulia. Tugas yang terus ada hingga ajal menjemputnya. Mendidik merupakan kerja-kerja intelektual seumur hidup karena mendidik sealau membawa spirit pencerahan dan memerdekakan akal untuk peradaban yang berkemajuan,” kata Ega.


Catatan penting lainnya yang membuat buku ini wajib dibaca adalah pembahasan pada bab V “Mengokohkan Gerakan Mahasiswa dalam Pusaran Peradaban”. Pada bab ini Ega memberikan catatan-catatan kritis tentang kaum muda. Gerakan mahasiswa menurut Ega adalah gerakan untuk menciptakan perubahan. Karena mahasiswa merupakan kaum intelektual.

“Usaha berpikir ini kemudian menjadikan kita sebagai gerakan intelektual (intellectual movement) yang harus terus berpikir, berefleksi, dan beraksi secara terus-menerus demi terciptanya suatu perubahan,” ungkapnya.

Hal itu, kata Ega, dipengaruhi juga oleh organisasi mahasiswa sebagai wadah pergerakan. Maka, lembaga kemahasiswaan mesti menjadi organisasi berperadaban. “Grand design untuk menyongsong organisasi kemahasiswaan yang berperadaban tidak akan pernah tercapai tanpa pengaturan langkah strategis yang terukur dan mampu dievaluasi.”

Selain itu, lewat sentilan-sentilannya, Ega juga berpesan agar kaum muda wabill khusus mahasiswa menggiatkan diri dengan membaca. Bahkan, membaca sendiri menjadi sebuah gerakan.

“Mahasiswa sebagai representasi dari gerakan intelektual seyogianya menjadi trend setter gerakan membaca.”


Membaca adalah modal bagi tumbuhnya gerakan mahasiswa yang substansial dan mencapai puncaknya. Mahasiswa sebagai kaum terdidik bertanggung jawab untuk membuat sebuah perubahan.

“Masyarakat kampus yang terdidik akan menjadi modalitas lahirnya sebuah perubahan untuk perbaikan peradaban. Dengan membaca dan menginventarisasi berbagai khazanah wawasan yang luas, gerakan mahasiswa akan terhindar dari gerakan-gerakan sporadis dan seremonial.”

Cover Buku



Identitas Buku

Judul: Mengobati Luka Peradaban; Renungan tentang Isu-Isu Kebangsaan & Kemanusiaan 
Penulis: Mega Saputra 
Penyelaras Bahasa: Ahmad Soleh 
Penerbit: Penerbit WR 
Cetakan: I, November 2018